Welcome...Selamat Datang...

Padi organik petani hasil pendampingan kami

Padi Rojolele organik

Lokomotif tua di kota kecil Cepu, Blora

Lokomotif tua yang sekarang kadang-kadang digunakan untuk kereta wisata di lingkunagn perhutani Cepu-Blora.

SATE BUNTEL KHAS SOLO

Lezat dan bikin kita ketagihan.

Jajanan khas Jawa

Jajanan khas Jawa ini sekarang sering disajikan dalam acara formal maupun informal. Lengkap, rasanya bervariasi dan sehat.

Para peserta LDK di Tawangmangu

Latihan Dasar Kepemimpinan diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa Surakarta di Tawangmangu pada tahun 2011.

Di Tanah Lot Bali

Refreshing di Bali pada tahun 2010, bersama teman-teman dosen.

Tampilkan postingan dengan label TV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TV. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2021

Rocky Gerung yang 'Cerdik'

 

Semenjak acara Indonesian Lawyer Club (ILC ) menjadi acara yang sengaja dikhususkan untuk mengkritik pemerintahan negeri ini , sejak itulah kesempatan diberikan oleh Karni Ilyas kepada Rocky Gerung untuk memperoleh panggung. Karni Ilyas cukup cerdas untuk menggunakan acara tersebut untuk mengaduk-aduk emosi pemirsa TV yang gemar mengikuti pergulatan politik praktis negeri ini, secara khusus semenjak era kepemimpinan presiden Joko Widodo.

Pilihan Karni Ilyas untuk selalu melibatkan RG di acara ILC memang tepat. Tepat dalam pengertian untuk mengaduk emosi pemirsanya. Rocky Gerung memang cukup cerdik (kalau tidak mau dibilang licik) dalam menyampaikan statementnya yang memang terasa sangat vulgar dan tak beretika.  Mengapa vulgar dan tak beretika dinilai cerdik? Tentu saja cerdik di sini adalah untuk ukuran RG yang memang sengaja memposisikan sebagai nara sumber 'antagonis' yang dibutuhkan oleh ILC (Karni Ilyas dan TV One) untuk menjaga ratingnya agar tetap tinggi.

TV One memang beda, itulah yang juga dipakai acuan RG bahwa Rocky Gerung memang beda. Saya memang bukan dosen filsafat seperti RG tetapi saya juga tahu bahwa setiap individu manusia memang beda dengan segala keunikannya. Namun demikian apakah kemudian dibenarkan bahwa dengan segala keunikannya lalu setiap individu boleh melecehkan sesamanya manusia? 

Rocky Gerung banyak diketahui bahwa dia juga seorang dosen, dan mungkin oleh sebab itu pula dia dianggap punya kompetensi untuk menjadi nara sumber atau pendebat di acara ILC. Dan memang dia berhasil untuk menjadi daya tarik di acara tersebut. Karena kita tahu bahwa ungkapan "bad news are good news", hal-hal atau peristiwa yang buruk akan menjadi pemberitaan yang bagus dan menarik. Ada satu kecenderungan buruk manusia bahwa akan menyenangkan bila melihat orang lain mengalami ketidaknyamanan sehingga dirinya sendiri bisa menyombongkan diri.

Dalam konteks itulah RG saya nilai cerdik. Dia memposisikan diri sebagai seorang pembenci seperti sebagian besar penonton acara ILC yang berseberangan dengan kebijakan pemerintah saat ini. Para penonton ILC (dan juga TV lain yang mendatangkan RG) merasa mendapat dukungan untuk terus mengkritik pemerintah secara vulgar, agar tidak termasuk dalam kelompok orang-orang 'dungu' seperti yang dikatakan oleh RG.

Semenjak sepak terjangnya di acara-acara talk show politik, apakah RG masih layak menjadi dosen? Ini menjadi pertanyaan yang terus ada di pikiran saya.  Bolehkah seorang dosen melecehkan orang lain, meskipun dengan landasan keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan? Apalagi kalau landasannya ngawur dan mengada-ada? Asal beda dan lalu menilainya dengan 'dungu".

Menurut yang saya pahami, seorang guru atau dosen tidak boleh menilai (mengatakan) mahasiswanya bodoh apalagi dungu. Karena kita semua tahu bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna. Tidak akan ada dosen apabila tidak ada mahasiswa yang belum memahami (bukan bodoh atau dungu) tentang ilmu yang dia pelajari di bangku perkuliahannya. Apalagi di forum di luar batas wewenangnya sebagai dosen, layakkah RG menilai orang lain yang berbeda pendapat dengannya sebagai dungu? Orang kebanyakan pun tidak boleh melecehkan sesamanya apalagi seorang dosen yang mestinya memiliki tingkat intelektual dan kesantunan yang lebih tinggi.

Tampaknya sudah saatnya, penyelenggara talk show politik dan sejenisnya di TV atau media lain, untuk tidak melibatkan RG dan pembicara lain sejenisnya. Tidak selayaknya masyarakat kita dibodohi dengan pembicara talk show semacam RG. Demikian pula perguruan tinggi yang masih menggunakan RG sebagai staf pengajarnya, seharusnya mengkaji ulang keterlibatan RG di ruang perkuliahan.

Orang 'secerdik' RG tidak sepantasnya diberi panggung hanya semata demi menaikkan rating dan memperbanyak pemasang iklan. Masyarakat kita tidak semestinya dikorbankan dengan pembodohan secara keji oleh orang seperti RG. Memang 'bad news' biasanya menarik tetapi bukan lalu membiarkan diri kita menjadi 'bad people'.
 

***
Solo, Jumat, 6 Desember 2019. 9:03 pm
'salam kritis penuh cinta'
Suko Waspodo
antologi puisi suko
ilustr: kumparan.com

Kamis, 14 November 2013

Jonas Rivanno Sebaiknya Mengaku Mualaf Saja

Front Pembela Islam (FPI) Depok akhirnya melaporkan Jonas Rivanno, suami aktris Asmirandah, ke Kepolisian Resor Kota Depok, Jawa Barat. Dalam hal ini Jonas dituduh berbohong lewat media massa karena mengaku belum masuk Islam.

"Kami sengaja melaporkan Jonas karena ia tak mengaku telah mengucapkan syahadat," demikian kata Ketua FPI Depok, Idrus Al Gadri, kepada wartawan di Kepolisian Resor Kota Depok, Kamis, 14 November 2013. FPI serta Majelis Ulama Islam Depok memiliki bukti apabila Jonas telah menjadi mualaf dan menikahi kekasihnya, Asmirandah, pada 17 Oktober lalu.

Menurut Idrus Jonas telah menipu semua umat Islam dan MUI sebagai lembaga negara. Terlebih lagi, Jonas telah menegaskan belum menjadi muslim dan menikahi Asmirandah di hadapan para wartawan. "Kami tersinggung. Jika Jonas tidak Islam, berarti ia berpura-pura Islam ketika datang ke Depok untuk menikahi Asmirandah," katanya.

Tatkala menikah, kata Idrus, Jonas mengenakan seluruh identitas agama Islam dalam data dirinya. Mereka bahkan mengakui telah memegang beberapa barang bukti pernikahan itu. Antara lain surat nikah, syahadatnya, surat pengantar nikah, asal-usul Jonas, dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Terkait masalah ini Jonas akan dijerat dengan Pasal 156 KUHP tentang menyebarkan kabar bohong sehingga membuat sekolompok orang tidak tenang. Tetapi, tidak tertutup kemungkinan pemain sinetron itu juga akan dijerat dengan pasal lain karena FPI belum selesai melaporkannya. "Kami masih membicarakannya, mengenai  pasal apa saja nanti yang bisa dipakai," ujar Idrus.

Selanjutnya Idrus meminta Polresta Depok cepat menanggapi laporan itu. Bagaimana pun, kata Idrus, Jonas harus siap bertanggung jawab atas pernyataannya yang menyatakan dia belum islam. "Dia juga harus minta maaf kepada umat Islam," ujarnya.

Kasus ini menjadi semakin menarik. Menurut saya pilihan keyakinan kepada Tuhan atau agama adalah hak asasi setiap orang dan itulah saya kira yang dipakai pedoman oleh Jonas Rivanno. Namun masalahnya menjadi runyam manakala dia membuat pernyataan yang oleh kalangan tertentu dianggap menipu dan meresahkan masyarakat serta melecehkan agama Islam. Di Indonesia memang ada pasal tentang penipuan itu dan lebih lanjut Jonas Rivanno akan bisa dijebloskan ke penjara oleh FPI atau MUI. 

Oleh sebab itu menurut saya lebih baik Jonas Rivanno mencabut kembali pernyataannya bahwa dia tidak menjadi mualaf. Agar lebih aman serta tidak dituntut pasal penipuan kemudian dijebloskan ke penjara, sebaiknya Jonas mengaku saja sebagai  mualaf. Namun apabila hal itu bertentangan dengan suara hatinya toh hanya sekedar pernyataan ke publik sedangkan relasi batinnya dengan Tuhannya tetap bisa dilakukan dengan keyakinan dia sebelumnya.

Dalam hal ini masalah agama di Indonesia kenyataanya memang hanya butuh pernyataan lahiriah saja. Mengenai cara beragama kita secara pribadi tidak ada hukum negara yang mengaturnya. Apakah kita mau menjalankan ibadat agama kita dengan cara apa pun semuanya adalah tanggung jawab pribadi kita dengan Tuhan. Jadi menurut saya Jonas silahkan membuat saja pernyataan kembali kepada publik bahwa dia telah menjadi mualaf serta meminta maaf kepada FPI dan MUI agar tidak mengalami kesulitan dengan masalah hukum. Mengenai relasi pribadinya dengan Tuhannya toh tetap bisa dia lakukan seperti agamanya semula. Mudah dan sederhana kan? Gitu aja koq repot.

Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Kamis, 14 November 2013
Suko Waspodo

Sabtu, 21 September 2013

Berita Laporan Investigasi yang Menakuti


Kita pasti pernah mengikuti berita laporan investigasi yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta kita. Secara khusus investigasi mengenai produk makanan. Benar-benar menakutkan.

Suatu ketika diberitakan tentang penggunaan borax atau formalin pada produk bola daging bakso, kemudian pada waktu lain tentang penggunaan zat pewarna berbahaya untuk pewarna makanan. Dilain kesempatan juga pernah ditayangkan tentang daging sapi glonggongan, ayam bangkai (tiren), campuran daging tikus pada bola daging bakso dan masih banyak lagi contoh lainnya. Semuanya menakutkan dan bahkan mengerikan.

Yang menjadi persoalan adalah apakah semua itu fakta atau jangan-jangan sebagian hanya berita yang direkayasa. Penyamaran pelakunya memang perlu untuk menjaga etika pemberitaan, namun hal ini juga bisa menjadi cara bagi pembuat acara itu untuk membuat berita fiktif. Pemberitaan laporan investigasi sebagian besar memang produk makanan olahan dan industri rumah tangga, jadi memang pada umumnya tidak langsung di bawah pengawasan badan POM. Dalam hal ini muncul kecurigaan bahwa pemberitaan, atas permintaan industri besar, sengaja ditiupkan untuk mematikan industri kecil rumah tangga yang biasanya lebih murah. Selanjutnya karena ketakutan oleh pemberitaan terhadap produk itu, konsumen ganti memilih membeli produk perusahaan yang pasti sudah di bawah pengawasan badan POM. Konsumen menjadi ketakutan membeli produk makanan industri rumah tangga, padahal belum tentu industri kecil rumah tangga melakukan praktek nakal seperti laporan investigasi tersebut.

Seandainya memang diduga ada praktek merugikan konsumen, sebaiknya yang melakukan investigasi adalah badan POM bukan wartawan media. Karena seperti yang disebutkan di atas, pemberitaan investigasi tersebut diragukan kebenarannya, terkesan direkayasa. Lebih baik media bekerjasama dengan badan POM untuk investigasi yang resmi, sehingga keakuratan laporannya bisa dipertanggungjawabkan.

Konsumen memang perlu dilindungi dan dalam hal konsumen produk makanan badan POM yang bertanggungjawab, bukan media masa. Media hanya membantu untuk memberitakannya. Jangan seperti laporan investigasi selama ini yang terkesan diatur skenarionya. Seharusnya wartawan media mencari permasalahan yang dialami konsumen kemudian membawanya ke badan POM dan selanjutnya bekerjasama menginvestigasinya secara resmi dan kemudian memberitakannya. Sehingga konsumen memperoleh berita yang sesuai fakta dan bukan terkesan rekayasa yang hanya menakut-nakuti masyarakat konsumen.

Demikian tulisan ini hanya sekedar ungkapan kecemasan, semoga yang terkait dengan masalah ini bisa memperhatikan dan menindaklanjuti.

Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Selasa, 9 juli 2013
Suko Waspodo